MENERBITKAN YANG TERBENAM (Bagian 1)

MENERBITKAN YANG TERBENAM (Bagian 1)

“Di era 97 Riau ini, khususnya Pekanbaru, tidak terlalu peduli yang namanya musik tradisional. Mereka lebih konsen terhadap hal yang lain, musik itu menjadi bagian kecil,” begitulah ucapan seorang budayawan dan komposer musik, Rino Deza Pati. Ia sedang menikmati kopinya dan bersenda gurau dengan tim produksinya pada saat itu.

Pekanbaru adalah salah satu kota yang identik dengan sejarah dan budaya. Tapi pengaruh budaya barat memudarkan kebudayaan lokal itu sendiri. Melihat hal tersebut, pria berusia 40 tahu ini sempat mencoba membuat kelompok musik. Tapi belum sepenuhnya terseret ke dunia musik.

Barulah Pada akhir tahun 2000, Rino berangkat ke Prancis untuk mengikuti kegiatan residensi kebudayaan. Di sana ia bertemu dengan seorang budayawan dari Nice, Prancis yang bernama Yvest Bleicher.

“Dia sangat menghormati kebudayaan kita, namun kita malah berpikir, kenapa saya sendiri tidak memikirkan kebudayaan kita? Akhirnya, disana saya brainwashed. Pulang Pekanbaru, saya membentuk Riau Rhythm,”

Rino Deza Pati

Rino mendirikan Riau Rhythm Chambers  terdiri dari Rino Deza Pati sebagai founder dan director, Rendra Kurniawan sebagai manajer, Reizki Habibulah sebagai produser kreatif, Cendra Putra Yanis sebagai principal development, serta Christian Pramudana sebagai Penasehat Riau Rhythm Chambers.

Menduduki usia 17 tahun, Riau Rhythm Chambers sudah banyak makan asam garam. Ketika masa transisi, Riau Rhythm sempat mendapatkan kecaman karena mereka menggabungkan musik tradisional dengan musik elektronik. Rino mengatakan bahwa mereka bermain di waktu yang salah ketika itu.

“Di zaman itu, kita terlalu dianggap mengada-ngada, menggabungkan musik komputer dengan tradisi itu, dianggap kurang ajar,”

Rino, CEO Riau Rhythm Chambers

Pendekatan modern

Menerbitkan yang terbenam
Direktur dan Founder Riau Rhythm Chambers, Rino Deza Pati (Sumber: Ricky Marin Wijaya)

Menanggapi kecaman tersebut, Rino mencoba untuk membentuk kombinasi musik, merubah ulang musik dan melihat bagaimana perkembangan musik yang dinikmati orang lokal, sehingga Riau Rhythm dapat mencapai audiens tersebut. “Misalnya mereka suka fusion, nah pendekatannya kita membuat tradisi musik dengan fusion juga. Mereka suka rock, kita membuat yang minimal ada distorsi di gitarnya, seperti itu,” ujar Rino.

Tidak hanya itu, Riau Rhythm pernah mendapatkan kecaman karena bermain instrumen dengan cara yang tidak semestinya. “Gambus itu secara adat mainnya duduk di bawah dengan gaya bersila. Pada saat abang memainkannya di atas panggung, abang membawakannya dengan bermain seperti gitar, itu sempat mendapatkan kecaman, merusak tradisi. But show must go on, dan rasanya kalau bukan kita lagi, tentu pastinya orang yang sama juga yang akan bermain. Kalau mereka sudah tidak ada, siapa yang akan meneruskannya?” ujar Rino.

Menurut Rino, menabrak kebiasaan tersebut bukanlah menghilangkan nilai budaya tersebut, melainkan hanya mengubah cara bermainnya saja. “Beberapa waktu setelah mendapatkan kecaman tersebut, pada akhirnya mereka respect, dan terus mendukung kami hingga sekarang,” ujar Rino.

Debut Riau Rhythm Chambers

Riau Rhythm memiliki tujuan untuk menunjukkan eksistensi musik tradisional kepada generasi-generasi muda. Rino menganggap generasi muda saat ini selalu bangga dan percaya diri terhadap kebudayaan-kebudayaan luar. Sementara, beberapa budaya luar mengadopsi kebudayaan timur, dan celakanya kebudayaan timur sendiri mengadopsi budaya-budaya dari barat.

Fokus dari Riau Rhythm ini adalah musik tradisional yang digabungkan dengan musik dari barat. Sebelumnya, Riau Rhythm mengangkat dampak dari kultur barat, yang dituangkan kedalam sebuah karya yang berjudul Atan Hip Hop. Dirilis pada tahun 2008, Atan Hip Hop menggabungkan ketukan hip hop dengan melodi khas Riau yang dimainkan dengan Akordion dan Gambus.

Selama 17 tahun, Riau Rhythm sudah mengelilingi berbagai negara. Grup musik ini pernah ke Prancis, Italia, Korea, Australia, Singapura, Turki, Malaysia, dan lainnya. Riau Rhythm sudah memiliki tiga generasi sampai sekarang.

Suvarnadvipa ini merupakan album terbaru dari Riau Rhythm Cambers. Album ini memiliki latar belakang untuk mengeksplorasi warna Budaya Melayu dengan konsep tradisi dan kekayaan lokal. “Kami mengeksplorasi gaya memainkan instrumen ke dalam konsep musik inovatif dari akar musik Melayu,” ujar Rino.

Proses produksi Album Suvarnadvipa ini tidak hanya tentang mengeksplorasi instrumen, tetapi juga mengandung penelitian mendalam tentang budaya Kampar dan Riau. Sejarah lisan dan kisah Kuil Muara Takus adalah wawasan utama dari album Suvarnadvipa ini. “Talempong itu sebagai ciri khas dari Minangkabau, Sumatera Barat. Kalau di Kampar, kita ketemu namanya Calempong. Lalu Gambus Melayu yang sebagai ciri khas dari musik Melayu kita mainkan dengan ketukan seperti repertoar,” tambah Rino.

Baca juga: MANG KOKO, MAESTRO KARAWITAN ASAL SUNDA

Dukungan dari Kepala Sekolah

Sebagai Kepala Sekolah Darma Yudha, Pekanbaru. Chirstian Pramudana turut mendukung adanya Riau Rhythm Chambers dengan menjadi penasehat di grup musik tersebut.

“Riau Rhythm ini sebuah grup musik yang sangat unik, mungkin satu-satunya yang eksis dan berusaha semaksimal mungkin agar dapat tetap berkarya, bermusik, dan sekaligus melakukan pertunjukan kesenian Tradisi Riau di tingkat nasional bahkan hingga tingkat internasional,”

Christian Pramudana

Sebagai penasehat, tidak banyak yang dilakukan oleh Kepala Sekolah Darma Yudha ini. Namun, ada perkara penting yang menggerakkan hati penasehat ini untuk mendukung grup musik Riau Rhythm Chambers.

“Hanya saja, karena dukungan dari berbagai pihak masih tidak banyak, kecuali di kalangan seniman ya, karena mereka sangat mendukung satu dengan yang lainnya. Seharusnya, dukungan pemerintah harus lebih banyak lagi karena mereka bukan hanya semata-mata bermusik, tetapi mereka mengangkat ciri khas dan budaya Provinsi Riau. Jadi, karena perhatiannya masih sangat minim, kita mau tidak mau harus banyak mencari sponsor, dukungan dari berbagai pihak, baik itu perorangan maupun perusahaan swasta,” ujar Christian.

Menerbitkan yang terbenam
Christian Pramudana (kanan). Sumber: Ricky Martin Wijaya

Kepala Sekolah dan penasehat Riau Rhythm Chamber ini juga turut memberikan pesan kepada Riau Rhythm. Christian berpesan agar terus berkarya dan jangan mudah untuk menyerah. “Kita hanya berharap dari mereka, karena eksistensi itu hanya bisa ada kalau mereka tetap konsisten,” pesan Christian.

Berbagai perjalanan Riau Rhythm Chamber yang menjadi highlight bahwa misinya adalah untuk melestarikan budaya dan mengenalkan kepada generasi muda terlaksanakan ketika grup musik ini mengadakan program untuk melakukan tour ke Sekolah Darma Yudha pada tanggal 12 Oktober 2017. Aula Sekolah tampak ramai dan dipenuhi oleh guru beserta siswa SMP pada saat itu. Dengan menggunakan gambus yang dibawakan seperti bermain gitar, Rino beserta grup musiknya memperkenalkan berbagai karya yang diciptakan oleh mereka.


Baca Selanjutnya: MENERBITKAN YANG TERBENAM (Bagian 2)

(Visited 8 times, 1 visits today)

Tinggalkan Komentar