APA SIH BEDANYA MRT JAKARTA, DENGAN NEGARA ASEAN LAINNYA?

APA SIH BEDANYA MRT JAKARTA, DENGAN NEGARA ASEAN LAINNYA?

Sobat TulKit, akhirnya MRT (Moda Raya Terpadu) Jakarta sudah mulai beroperasi. Menyusul dengan adanya MRT di beberapa negara ASEAN seperti, Kuala Lumpur (KL), Singapura dan Bangkok yang sudah beroperasi.

Sejak diresmikan pada 24 Maret 2019 oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), dan beroperasi sehari setelah dioperasikannya. Rute yang diresmikan ialah Fase I, yakni dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI. Proyek yang memakan dana senesar Rp14,2 triliun tersebut dikelola PT MRT Jakarta yang diketuai William Sabandar sebagai Direktur Utama.

Pasca diresmikan, awalnya MRT Jakarta mengadakan tahap uji coba dengan gratis kepada masyarakat DKI Jakarta yang ingin mencobanya. Semenjak 13 Mei 2019 MRT menggunakan tarif normal. Harga normal satu rute penuh (Lebak Bulus-Bundaran HI) dikenakan tarif sejumlah Rp14 ribu. Lantas bagaimana perbedaan MRT di Jakarta dengan kota-kota negara tetangga?

Jakarta vs Bangkok vs Kuala Lumpur

Felicia Subrata, salah satu Sobat TulKit yang pernah mencoba MRT dari 2 kota negara ASEAN (Bangkok dan Kuala Lumpur) menyampaikan:

“Dibandingkan dari MRT Jakarta, fasilitas di MRT Bangkok dan KL (Kuala Lumpur) tidak ada tempat menaruh tas di atas kursi, seperti MRT Jakarta. Terus di MRT Jakarta enggak ada tiang tengah untuk pegangan atau senderan, cuma ngegantung gitu seperti naik KRL. Padahal itu yang paling penting buat enggak pegal selama perjalanan.”

Felicia Subrata

Felicia mengeluhkan harga tiket MRT Jakarta yang mahal dibandingkan MRT beberapa kota yang pernah ia coba di Asia Tenggara. “Di KL sendiri harga MRT lebih murah daripada naik taksi online, sekitar 3,8 ringgit (Rp13 ribu). Harganya mirip-mirip dengan yang ada di Jakarta, tapi jarak antar stasiunnya cukup jauh.”

Jika dibandingkan dengan Bangkok, Felicia menjelaskan bahwa harga MRT Bangkok lebih mahal seharga 42 Baht (Rp19ribu). Tapi dengan jarak tempuh yang cukup jauh.

“Jarak stasiun di MRT Jakarta lebih saling berdekatan, seperti Sudirman ke HI, itu enggak worth it banget, kalau pakai MRT walau harganya Rp 3 ribu. Dengan jarak segitu mending pakai ojol atau enggak bus aja” ujar Felicia.

Pada sisi stasiun MRT, cewek yang aktif di dunia pertukaran pelajar ini menemukan kesamaan MRT Jakarta, Bangkok dan Kuala Lumpur. “Semuanya terintegerasi dengan transportasi umum lainnya. Di Bangkok, ada stasiun Mo Chit yang terintegerasi dengan BTS dan terminal bus, MRTnya juga terintegerasi ke Bandara Suvarnabhumi. KL juga sama, terintegerasi di KL senteral dan Bandara KLIA 1 dan 2. Jakarta juga sama, bisa terintegerasi dengan kereta bandara, KRL dan Busway, di sekitar stasiun BNI Sudirman.”

Felicia menyarankan, agar stasiun-stasiun MRT di Jakarta lebih baik lagi bila ada  foodcourt atau pertokoan dan diperbolehkan untuk makan di dalam kereta. “Fase I ini kan rute-rute stasiunnya itu kan bisnis banget. Ke HI-lah, ke Sudirman-lah. Pasti yang pakai MRT ini adalah orang yang mau berangkat kerja dengan waktu yang cepat. Harusnya ada regulasi boleh makan di kereta, dan ada foodcourtnya biar pekerja kantoran enggak telat sarapan untuk ngantor

Jakarta vs Singapura

Albert Supargo, salah satu Sobat TulKit yang pernah tinggal di Singapura untuk bekerja magang selama 3 bulan. Ia menyampaikan beda MRT Jakarta dan Singapura yang sebenarnya beda tipis.

“Kalau interior menurut saya sih, kurang lebih mirip, ya. Untuk operasionalnya di Jakarta itu kurang. Ada banyak alat untuk membeli tiket di stasiunnya (jika di Singapura), sedangkan di Jakarta sangat sedikit sehingga membuat antrian panjang”

Albert Supargo

Dalam permasalahan tarif, Albert menyampaikan, “Karena itu (MRT) dipriortiaskan oleh pemerintah. Disubsidi sama pemerintah. Satu stasiun kalau di Rupiahin Rp4 ribu sampai Rp5 ribu per stasiun. Kalau masih 4 stasiun harganya masih dianggap 1 stasiun, baru diakumulasikan dengan harga normal ketika sudah lewat darii 4 stasiun”

Dibandingkan dengan Singapura, Albert merisaukan penggunaan penumpang MRT di Jakarta. Menurutnya budaya serobot, tidak taat peraturan dalam MRT sering terjadi di lingkungan stasiun dan dalam MRT. Masih kurangnya memprioritaskan kursi untuk penumpang disabilitas dirisaukan Albert.

“Itu yang menjadi poin-poin minus MRT di Jakarta yang membuat orang males jadinya naik MRT, gara-gara oknum masyarakat yang secara enggak langsung mengurangi kenyamanan” Jelas Albert.

mrt jakarta dan asean
Single Trip MRT (Sumber: Afkar Aristo)

Metode Pembayaran

Albert dan Felicia menyampaikan perbedaan antara MRT di Asia Tenggara dengan Jakarta ialah sistem pembayarannya. Di Bangkok, Kuala Lumpur, dan Singapura, telah disiapkan pemerintahnya masing-masing kartu akses. Kartu akses ini berguna untuk semua transportasi umum, karena dikembangkan oleh pemerintah sendiri. Sedangkan di Jakarta melalui beragam metode seperti uang elektronik dari perusahaan-perusahaan pengembang.

“Kasarannya Jakarta itu kapitalis banget, perusahaan ini-itu masuk demi mengembangkan MRT. Sedangkan di luar sana, pemerintahnya sebagai handle tunggal” terang Albert.

Baca Juga: Tembakau Indonesia untuk Ekonomi Dunia

(Visited 41 times, 1 visits today)

Tinggalkan Komentar