Indonesiana

komentar seorang arsitek sesudah menonton film gie…

“Di Indonesia hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau idealis”

Soe Hok Gie

Kalau Gie memilih menjadi idealis dengan penuh kesadaran, jalan hidupku telah membawaku menjadi apatis dengan tanpa sadar. Kalau Gie memulai masa dewasa awalnya dengan langkah pasti menuju sang idealis, aku memulainya dengan kepastian-kepastian yang menuntunku menjadi sang apatis.

Setiap zaman punya masalahnya sendiri. Zaman Gie membawanya menjadi idealis. Zamanku membawaku , dan ribuan generasiku yang lain, menjadi apatis. Mungkin karena kurangnya pengetahuan, atau justru kedewasaan yang terlalu cepat?

Zaman Gie tidak membawa serta pergaulan bebas, obat-obatan, orang tua yang terlalu sibuk bekerja, atau dugem. Di tengah semua himpitan untuk diterima lingkungan seperti itu, masih sempatkah mahasiswa kita memikirkan persoalan bangsa?

Kalau di antara jam kuliah menyempatkan diri bobo-bobo siang dengan sang pacar, Jangankan persoalan bangsa, mencapai ipk cukup pun susah. Belum lagi bila sang pacar mendadak berbadan dua,

… …Gie serasa tokoh dalam dongeng, biarawan yang begitu suci, tak tersentuh dosa-dosa manusia maupun kehidupan duniawi yang kotor, mampu mempertahankan diri hidup selibat.

Karena itulah ia bisa tetap bebas melontarkan kritik-kritiknya. Karena ia bukan sang pelaksana. Ia sang penggerak, pemberi inspirasi, tapi tak pernah sang pemikul tanggung jawab. Ia terlalu ringan untuk itu. Aku jadi curiga, jangan-jangan semua pengkritik hebat sepanjang zaman hanyalah orang-orang pengecut yang tak mampu dan tak mau mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin.

Bukankah idealisme merupakan barang mewah di Indonesia?

Hanya orang-orang yang merasa tercukupi kebutuhan pokoknyalah yang mampu memilikinya. Sesuai teori kebutuhan maslow, setelah seseorang merasa tercukupi kebutuhan pokok sandang pangan papan, barulah ia membutuhkan hiburan, rekreasi lalu aktualisasi diri. Dan hanya ssegelintir orang di Indonesia yang merasa berada di puncak piramida maslow. Aku katakan merasa, karena kebutuhan-kebutuhan ini sepertinya sangat subyektif. Banyak orang tak pernah mendaki tingkat piramida berikutnya dan tetap berputar-putar pada tingkat piramida yang sama. Dan jumlah ini semakin bertambah banyak mengingat standar kecukupan dasar piramid maslow yang semakin lama semakin tinggi.Orang dituntut untuk membeli dan tak pernah merasa puas dengan apa yang ia miliki. Semakin sedikit Gie-Gie lain.

Entahlah. Aku bingung. Saat ini adalah saat bagi komersialisme. Masih adakah tempat bagi pemikiran-pemikiran romantis macam Gie? Komedi satir rasanya lebih tepat untuk saat ini. Agar bisa menertawakan diri sendiri. Akhirnya idealisme dan kreativitas memang hanya punya tempat dalam komedi. Apresiasi diberikan pada segala sesuatu yang bisa dijual. Bukankah idealisme Gie akhirnya mendapatkan tempatnya dalam film? Hanya sebagai khayalan yang menghibur, tidak dalam realita. Tapi mengapa harus protes? Bukankah idealisme dan dunia imajinasi menempati ruang yang sama?

Umurku saat ini sama dengan umur Gie saat ia meninggal.

Aku generasi yang tak pernah merasakan pembantaian g 30s, atau perang kemerdekaan. Dengan pahit generasiku menyadari bahwa situasi tak pernah berubah. Di tengah kebutaan dunia dugem, sebagai mahasiswa aku dikejutkan dengan realita, yang tak jauh berbeda dengan zaman Gie. Kekecewaan yang sama, matinya idealisme masa mahasiswa ….Aksi-aksi turun ke jalan menurunkan pemimpin negara, berbagai unsur yang hanya bersatu pada saat menurunkan Soeharto, lalu korupsi yang semakin merajalela setelah itu.

Bila hanya kekecewaan yang dihadapi, masih ada kah tempat untuk idealisme Gie di masa ini? Bukankah lebih baik tak usah memikirkan persoalan bangsa, melainkan berusaha berbuat melalui hal-hal kecil?Atau tak perlu mewah-mewah, sekedar makan pun cukup. Dan mengerjakan apa yang diharapkan dari kita dengan baik.

Biar bagaimanapun, perubahan butuh waktu. Indonesia penuh dengan pemikir-pemikir hebat, tapi tidak dengan pelaksana. Belum pernah ada pelaksana di Indonesia yang tak tergelincir dan jatuh nasibnya. Indonesia hanya berbakat mengkonsepkan dan merumuskan, tapi tidak dalam melaksanakan apalagi merawat. Konsep berkesinambungan yang begitu digemari badan-badan dunia rasanya terlalu jauh bila diterapkan disini.

Identitas kota Jakarta adalah kota metropolitan, tetapi juga kota yang jorok, najis dan kotor.Di satu sisi penuh gemerlap solekan, satu sisi lain kumuh dan coreng moreng.

Segalanya serba kontradiktif, dengan kutub-kutub yang semakin jauh.

Siapa sih aku sampai berani menuliskan hal-hal seperti ini?Aku hanya seorang wanita. Yang terlambat jauh memulai dibanding dengan Gie. Tak tergabung dalam afiliasi apapun. Tak punya pengalaman hebat seperti Gie. Bahkan tak pernah ikut dalam pergerakan mahasiswa. Hanya seorang wanita, yang mengisi waktu kuliahnya dengan pacaran dan bersenang-senang menghabiskan duit orang tua di mall. Bukan pula mahasiswi gaul. Tak pernah mencicipi kehidupan malam, minum atau ngedrugs. Merokok pun hanya coba-coba. Ibaratnya telur, aku hanya setengah matang. Serba tanggung. Bukan mahasiswi pintar, bukan pula terlalu bodoh. Gaul gemerlap enggak, gaul intelek juga enggak. Setamat kuliah, pengetahuanku yang bertambah pesat hanyalah bagaimana cara berpacaran yang ‘baik’. Bagaimana cara bersenang-senang tanpa melibatkan terlalu banyak resiko. Bagaimana ‘bersenang-senang’ tanpa hamil. Bagaimana tetap mempertahankan ipk pas-pasan untuk masuk bank, 2,75.

Gie bilang, who a man thinks himself defines his acts.

Aku peduli. Aku peduli, ketika lulusan-lulusan terbaik jurusanku hanya digaji 700ribu ketika mereka mencoba setia dengan bidang mereka. Aku peduli, ketika seluruh usaha memasukisekolah-sekolah terkenal, berpacu dengan waktu, pengesampingan perasaan diganti dengan tugas-tugas kuliah akhirnya mencapai antiklimaks ketika aku lulus. Indonesia dilanda krisis moneter. Pembangunan berhenti. Jasa arsitek tak ada harganya, dan yang lebih menyakitkan hati, dibuat tak ada harganya justru oleh alumni-alumni arsitek sendiri, oleh kakak-kakak kelas, senior dan praktisi yang yang dulu menimbulkan decak kagum.

Aku peduli, ketika melihat mahasiswi-mahasisiwi mabok yang digotong ramai-ramai keluar dari kafe-diskotik.

Aku hanya berandai-andai. Andai aku tetap merasa diri sebagai seorang arsitek….?

Andai aku tetap merasa diri sebagai perencana kota….?

Andai aku mampu merasa diri sebagai arsitek-perencana kota…?

Apa yang akan terjadi….?

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)