Jangan Pulang ke Jogja (1)
Aku menggenggam pegangan besi kereta dengan tangan kiri gemetar, dan tangan kanan mengenggam telapak mungil Tama. Dia asyik berceloteh tentang pepohonan yang berlari, dan aku asyik berdebar menanti detik-detik ini.
Aku pulang ke Jogja!
Setelah sekian tahun menghindari untuk pulang, sekarang keberanian dan tekad itu membawaku ke tanah kelahiranku. Setelah umur Tama, empat tahun, setelah lilin angka lima pernikahan kutiup bersama Dion seminggu lalu. Aku berani menjamin hatiku sekarang steril. Dari bayang-bayang dia.
“Bunda..Tama kangen Akung, udah lama gak ketemu,” ujar Tama ketika kereta mulai pelan, memasuki Stasiun Tugu. Aku tersenyum dan mengusap rambut ikal-bayi nya.
“Bunda juga..kemarin Akung Uti yang dateng ke Jakarta kan, mbawain Tama anak ayam dari kandang Akung. Nah, nanti Tama bisa main sama ayamnya Akung yang banyak itu.. asal jangan lupa cuci tangan ya,” jawabku disambut beliakan mata Tama, senang. Dia memang hobi ayam, entah mengapa sangat mencintai hewan berbulu lembut itu. Ya, Tama anak sulungku memang lembut, selembut Ayahnya. Pria yang mencintaiku sepenuh hati. Dan juga kusahakan kucintai sepenuh hati.
Kereta berhenti, aku turun pelan, menyesapi setiap getar lembut kerinduan yang kutahan lima tahun ini. Jogja!! Dengan mbok-mbok penjual nasi bungkus berjarik, tukang becak yang menawarkan tumpangan, dan hei..ada dokar! Seems thousands years haven’t see it.. mataku berkaca-kaca.
“Griya, Ndhuk!” seruan Ibu menyentak lamunanku. Ibu dan Bapak melambai semangat dari seberang rel. Tama langsung melepas genggamanku dan berlari menyongsong eyang-eyangnya. Seruanku untuk hati-hati berlari nampaknya hanya sebagai pemanis langkah kaki gempalnya saja. Hanya beberapa detik, dia sudah ada di pelukan hangat Akung Uti. Aku menyusul, dan terlingkupi hangat cinta orangtuaku. Mataku basah.
“Sudah lama kamu ndak pulang, Ndhuk..nanti lihat sendiri, Jogja sudah cantik, banyak berubah,” ujar Ibu pelan menyeka air mataku. Aku hanya bisa mengangguk dan menahan isakanku yang entah mengapa ingin keluar. Jogja!
Kota nyaman yang mengubur cintaku.
Bapak mengambil alih koperku dan menggendong Tama (luar biasa Bapak, di usia 70 lebih tetap saja sehat berkat jogging pagi teraturnya). Sesaat sebelum masuk mobil, aku merasa ada orang memandangiku. Aku menoleh sedikit namun rasa itu mendadak hilang. Orang itu mungkin sudah mengalihkan pandangan. Namun entah mengapa pandangan itu meninggalkan debar primitif yang lima tahun ini sudah mulai pudar.
BAB I
“Hari ini mau ke mana, Ndhuk?” kami sedang sarapan di ruang makan, menu khas Jogja: gudeg, kuah areh, tahu bacem, telur, ayam suwir. Dengan berselera aku memenuhi piringku. Ibu meletakkan sayur sop buatannya yang menerbitkan air liur. Ah, nanti saja sebagai penutup, batinku.
“Mmm..mungkin ketemuan sama Nura, Bu. Sudah sejak di kereta dia telpoon..terus. Kuangen pol katanya,” aku menyuap sambel krecek pedas kesukaanku. Ibu terkekeh.
“Lha pastinya. Kadang Nura main ke sini, tidur di kamarmu. Lha lama banget nggak pulang sih kamu. Lumayan, habis tidur dia mbersihkan kamarmu. Disapunya, dilapnya…,”
Aku terbelalak, luar biasa sahabatku yang satu itu. Aku harus mentraktirnya apapun yang dia mau di Jogja ini.
**
“Mana Tama? Waaaaa yang aku kangenin itu bukan kamu tapi Tama juga!!,” protes Nura waktu aku memasuki pintu ruang tamunya. Aku meletakkan helm, membanting pantat di kursi tamunya yang masih seempuk dulu. Aroma ruangan ini masih juga sama, hangat dan akrab.
“Baking any cake? Baunya harum..,” aku menyesap aroma kayu manisnya. Nura memanggang bolu. Dia berkacak pinggang.
“Mana Tama? Kok nggak dibawa sekalian? Dah sebesar apa dia? Masih inget aku nggak? Terakhir aku ketemu setahun yang lalu, trus cuma liat fotonya terus..,” cerocosnya. Aku nyengir lebar.
“Tama baru dijadikan tawanan cinta Bapak Ibu. Ngalah dulu dong.. habis itu giliran embah Ganjuran (Bapak Ibu Dion), tante omnya, naaaa baru giliranmu..,” jawabku, “Mangkanya main Jakarta dong say..tau aku kangen banget sama kamu juga kok nggak mau ke Jakarta,”
“Ya maaf, Gri..kerjaanku masih numpuk banget. Maklum masih residen tingkat rendah, masih ngerjain semua tugas senior,” Nura adalah dokter umum -adik kelas Dion- yang sekarang sedang mengambil pendidikan spesialisasi anak sesuai hobinya: main sama anak-anak.
“Lagian..kenapa kamu yang nggak balik Jogja? Betah amat di Jakarta, lima tahun bow..,” dia balas nyengir, tahu alasanku malas pulang. Menjadikan hal sensitif ini sebagai candaan, membuatku sedikit lebih rileks.
“Iya, betah, sambil mengubur hatiku. Hmm…,” aku bangkit memeriksa bolu panggangnya. Sudah matang. Kutiup-tiup dan menikmati aroma hangat telur-terigu-gula-mentega dan kuatnya kayu manis yang menerpa mukaku. Kuiris dan kuambil sepotong. Nura hanya mengamati tingkahku sambil tersenyum kecil. Dari dulu aku penggemar nomer satu semua kue buatannya.
“..apakabarnya Handi?” tanyaku sambil menggigit bolu itu. Suer, lumer di mulut. Mengeleminasi debaranku mengucap nama keramat itu. Thanks to bolu.
Nura memutar mata sejenak lalu memandangku lekat.
“Sudah siap denger jawabannya? Kalau aku bilang Handi dah nikah?” aku menelan boluku dengan sedikit susah payah. Padahal tapi lumer di mulut, sekarang jadi menggumpal rasanya.
“Ya congratulation aja,” jawabku.
“Serius?”
“Yeah, kenapa nggak? I’m married with one handsome-georgeous child named Tama. I’m moreover blessed,” oh iya, dengan satu suami yang sangat mencintaiku -point penting yang lupa kusebut.
“Hmm..baiklah. Lalu kalau kubilang Handi dah nggak di Jogja tapi ke luar negri?”
“Waw, his dream come true. Ya proficiat aja lah..,” jawabku sambil nyengir, berusaha memungkiri rasa kecewa yang menjalari ujung hatiku. Aku mengambil segelas air putih dan meneguknya. Kami terdiam sejenak.
“Nggak Gri, Handi masih single. High quality jomblo yang dikejar semua wanita. Dia sudah selesaiin sandwich programnya di Belanda, sekarang jadi dosen di fakultas kedokteran. Entah, berubah jadi homo kali setelah kamu tinggal kawin,” candanya yang kubalas dengan percikan air sisa minumku.
“Sial, dosa lu ya..,” geramku di sela tawaku.
Lega sekaligus ketakutan itu datang dengan bersamaan. Lega karena Handi masih di Jogja (dan belum menikah), ketakutan karena Handi masih di Jogja (dan belum menikah).
AHH..JOGJA!!
(bersambung)
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Comments
No comments yet.
Leave a comment