REFLEKSI HARI GURU
Dear Readers, hari ini, 25 Nopember 2008 di seluruh tanah air diadakan upacara peringatan Hari Guru Nasional Ke-63. Hari ini seakan semua perhatian terfokus kepada guru, seorang yang disebut dalam hymne Guru sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Ya, guru di era pemerintahan SBY-Jusuf Kalla sangat mendapat perhatian khusus, karena untuk mencerdaskan seluruh anak bangsa merekalah yang sangat memegang peranan penting. Itu sebabnya, APBN pun diarahkan 20% untuk pendidikan yang sudah pasti implikasinya juga kepada kesejahteraan guru. Tetapi bagaimanakah kondisi guru yang sedang mendapat perlakuan “anak emas”? Beragam, mulai dari guru yang memang bangga dengan profesinya sebagai pendidik sehingga dengan segala idealismenya terus bertahan dalam tugas kendati harus juga berjuang untuk mempertahankan hidupnya sendiri maupun keluarganya dalam himpitan ekonomi karena Krisis Global yang sedang melanda. Sampai kepada guru yang hanya “nyambi” dan menganggap profesi guru adalah peran yang perlu dilakonkannya demi berjalannya panggung sandiwara dunia tanpa sedikitpun memiliki “sentuhan” dalam proses belajar-mengajar apalagi profesionalisme guru sangat jauh di batinnya. Ironis memang situasi pendidikan di negara kita. Kalau semua guru seperti yang saya lukiskan, bagaimana kualitas anak bangsa kita ke depan?. Peduli orang lain yang demikian, yang penting, aku, aku yang adalah penulis dan juga guru akan berusaha seperti apa yang diharapkan Bapak Menteri Pendidikan dalam pidatonya yang dibacakan para Pembina Upacara di Hari Guru hari ini : “Menjadi Guru Yang Profesional dan Berkualitas”. Selamat Hari Guru!
* Elkana Mulyadi, S.Th
Penulis adalah guru di Perguruan Kristen Methodist Indonesia (PKMI)-Lubuk Pakam, Sumatera Utara.
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Comments
No comments yet.
Leave a comment